Tahun 1-3: membantu menstabilkan dan melindungi badak-badak di Taman Nasional Ujung Kulon.
Melindungi badak terlangka di dunia melalui upaya-upaya konservasi yang berdedikasi.
Melindungi badak terlangka di dunia melalui upaya-upaya konservasi yang berdedikasi.
Satu Tujuan Bersama
Misi Kami
Membantu memperkuat perlindungan badak-badak Jawa terakhir di dunia di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), sehingga populasi menjadi stabil dan pulih.
Prioritas kami adalah bekerja sama dengan Badan Otoritas TNUK untuk menyatukan semua tim patroli badak (yang ada) di bawah rencana pengelolaan 10 tahun oleh Pemerintah Indonesia, memastikan setiap unit dilatih dengan standar yang sama, dan memastikan bahwa semua operasi di masa mendatang diatur.
Kami akan mendukung TNUK untuk memperkuat Unit Patroli Maritim, mendanai markas maritim baru dan kapal-kapal baru. Kami akan mendukung teknologi baru dan memberikan keahlian untuk membantu pemantauan dan patrol 24/7 Badan Otoritas TNUK di perbatasan Taman.
Kami akan bekerja sama dengan TNUK dan masyarakat setempat untuk merekrut tim baru, yakni penjaga hutan wanita. Unit-unit ‘perlindungan dekat’ badak tersebut akan memberikan perlindungan terus menerus kepada badak, memungkinkan pemantauan secara live dan keamanan seiring waktu.
Mengikuti contoh konservasi gorila gunung di Rwanda, kami akan bekerja sama dengan Otoritas Taman untuk memastikan bahwa masyarakat setempat memperoleh manfaat finansial dan sosial yang signifikan dari kontribusi mereka kepada Taman Nasional Ujung Kulon, melalui lapangan kerja, perdagangan, pembayaran untuk jasa ekosistem, manfaat untuk hasil konservasi, dan manfaat pariwisata di masa depan.
Indikator Kinerja Utama memberikan akuntabilitas penting untuk semua elemen proyek. Kami akan mendukung rencana aksi 10 tahun Pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa semua alur kerja akuntabel, dan semuanya memberikan dampak positif. Prioritas kami akan selalu pada metrik keluaran (hasil) bukan metrik masukan (sumber daya).
Kami akan bekerja sama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Universitas UGM, dan Universitas IPB untuk mendukung proyek penelitian pascasarjana di dalam dan sekitar UKNP, dengan fokus pada pemantauan ekologis, survei keanekaragaman hayati, dan pengelolaan habitat.
Kami akan mendukung dan mendanai pengujian dan vaksinasi rutin untuk ternak di dekat taman. Kami akan bekerja sama dengan Otoritas Taman dan peternak lokal untuk
mengurangi, dan pada akhirnya menghilangkan, praktik membiarkan kerbau – yang menularkan bakteri mematikan kepada badak – berkeliaran bebas di dalam taman.
Kami akan bekerja sama dengan local partners untuk mengurangi mortalitas pertahunan di Taman Nasional Ujung Kulon hingga di bawah 10%, yang kami akan mencapai dengan lindungan efektif dari poaching dan penyakit kehewanan.
Untuk mengembangkan populasi, sekitar 20% sisa badak betina harus melahirkan/ get pregnant setiap tahun, hal yang wajar untuk populasi yang sehat. Kami akan bekerja sama dengan local partners dan masyarakat sekitar untuk menyingkirkan spesies tumbuhan invasif – termasuk Arenga Palm – dan perkenalkan kembali tanaman pakan badak,memastikan agar TNUK terus menyediakan pakan yang bergizi dan melimpah/ cukup bagi badak-badak dan spesies lain.
Memindahkan badak ke lokasi kedua adalah bagian yang vital dari proses pemulihan, dikarenakan satu lokasi tunggal rentan terhadap bencana alam, seperti kebakaran hutan, tsunami, atau wabah penyakit yang mematikan.
Kami akan mendukung kerjanya Indonesian Academy of Sciences, Universitas IPB dan mitra lokal, demi membantu Badan Otoritas TNUK untuk memilah badak mana saja yang harus dipindahkan ke lokasi baru, tergantung pada usia, genetik dan faktor-faktor lain.
Rhinoceros Sondaicus
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan satu dari tiga spesies badak yang ditemukan di Asia, ditemani badak bercula satu dan badak Sumatra. Dua spesies lainnya,
badak hitam dan badak putih, tinggal di Afrika.
Badak Jawa pernah tersebar di seluruh Asia Tenggara, tumpang tindih dengan badak India bercula satu yang berukuran raksasa serta badak Sumatra yang ukurannya jauh lebih kecil. Selama berabad-abad, badak Jawa diburu untuk memperoleh dagingnya, kulitnya (yang digunakan sebagai pelindung tubuh atau zirah), serta culanya, yang hingga kini tetap dipercaya oleh sebagian kalangan, memiliki khasiat obat.
Dengan kedatangan para pemburu Barat, nasib badak Jawa menjadi semakin kritis. Mereka menjadi buruan favorit kalangan elite penguasa dan pada akhirnya diklasifikasikan sebagai ‘hama’ oleh pemerintah kolonial Belanda, bahkan memberi imbalan bagi siapa pun yang berhasil membunuhnya karena kerusakan yang ditimbulkannya pada perkebunan.
Sepanjang abad ke-20, populasi badak Jawa perlahan-lahan musnah dari sebagian besar wilayah sebarannya. Di periode 1980-an, mereka hanya tinggal di dua lokasi: Ujung Kulon di Jawa Barat dan Cat Tien di Vietnam. Pada tahun 2010, bangkai badak Jawa terakhir di Vietnam ditemukan dalam kondisi tertembak dan culanya telah diambil, menjadikan Ujung Kulon sebagai satu-satunya tempat perlindungan terakhir bagi spesies ini.
Rhinoceros Sondaicus
Sebagai salah satu mamalia besar paling langka di bumi, badak Jawa memiliki berat antara 900 hingga 2.300 kg serta kulit berwarna abu-abu atau abu-abu kecokelatan. Badak jantan memiliki satu cula dengan panjang sekitar 20 cm. Badak betina tidak memiliki cula, namun bisa memiliki benjolan kecil yang mengeras pada bagian hidungnya.Mereka diperkirakan memiliki masa hidup antara 35 hingga 40 tahun di alam liar, meskipun tidak banyak yang diketahui mengenai biologi mereka.
Mereka umumnya hidup menyendiri, kecuali bagi betina yang membawa anak kecil atau di saat masa kawin yang singkat ketika betina sedang dalam masa estrus. Di Ujung Kulon, badak jantan memiliki wilayah jelajah seluas 12–20 km2 yang hanya sedikit tumpang tindih dengan wilayah jantan lainnya, sedangkan betina lebih tumpang tindih satu sama lain sebab wilayah yang lebih kecil (3–14 km2).
Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berkubang di lubang lumpur, kegiatan yang penting untuk pengaturan suhu tubuh, kesehatan kulit, dan membasmi ektoparasit, sembari memperdalam lubang tersebut menggunakan kaki dan cula mereka.
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan hutan hujan dataran rendah terbesar yang tersisa di Pulau Jawa, terletak di ujung paling barat daya pulau tersebut. Kawasan ini mencakup wilayah seluas 1.056,94 km2, yang terdiri dari 613,57 km2 wilayah daratan dan 443,37 km2 kawasan konservasi perairan.
Habitat di kawasan ini merupakan perpaduan antara hutan hujan dataran rendah, hutan pantai, hutan bakau (mangrove), dan padang rumput. Selain badak jawa, taman nasional ini menjadi rumah bagi berbagai spesies mamalia ikonik, termasuk banteng, macan tutul jawa, ajag (anjing hutan), kucing kuwuk, serta tiga spesies primata endemik: owa jawa, surili jawa, dan lutung perak. Lebih dari 270 spesies burung telah tercatat di sini, termasuk rangkong badak dan elang jawa, sementara kelompok reptil dan amfibi mencakup dua spesies ular sanca, dua spesies buaya, serta berbagai jenis katak dan kodok.
Dukung misi kami. Hubungi kami. Bagikan ceritanya.